Oleh: Bungas T Fernando Duling
Jiwa pembebasan dan semangat anti-penindasan sejatinya adalah adrenalin murni bagi kita, generasi penggerak yang kerap menjuluki diri sebagai sang jiwa muda pembawa api revolusi. Di dalam dada setiap pejuang, seharusnya ada detak jantung yang beresonansi dengan penderitaan rakyat, menciptakan energi yang tak kunjung padam untuk mendobrak sekat-sekat ketidakadilan.
Hilangnya rasa takut bukan sekadar ketiadaan gentar, melainkan keberanian yang lahir dari rahim pemikiran progresif. Pemikiran ini tidak muncul dari ruang hampa; ia ditempa melalui pembacaan literasi sejarah yang kritis serta implementasi nyata dalam kerja-kerja pendampingan dan pembasisan di akar rumput. Kita belajar bahwa keberanian tanpa teori adalah kebutaan, dan teori tanpa aksi adalah omong kosong yang bersolek.
Dalam lintasan sejarahnya, tinta dan kertas adalah senjata utama yang lebih tajam dari bayonet. Propaganda bukanlah sekadar deretan kata-kata manis atau bualan kosong, melainkan catatan penting yang sanggup menggetarkan pilar-pilar kekuasaan. Ia adalah instrumen ideologis yang mendorong perubahan besar, baik melalui transformasi evolusi yang sabar maupun ledakan revolusi yang membara.
Distorsi Peran Agitasi dan Propaganda
Dahulu, ada kebanggaan yang sakral saat kita berdiri sebagai tim perumus maupun tim teknis “Agitasi dan Propaganda” (Agiprop) dalam sebuah organisasi revolusioner. Menjadi bagian dari Agiprop berarti memikul tanggung jawab moral untuk mencerahkan massa, menyederhanakan teori yang rumit menjadi bahasa perjuangan yang mudah dipahami oleh kaum papa di pinggiran jalan maupun di pelosok desa.
Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya arus digitalisasi, wajah propaganda telah bermutasi secara mengerikan. Ia bukan lagi menjadi obor penerang jalan gelap bagi kaum tertindas, melainkan telah menjelma menjadi mesin “pembunuh” tanpa moral di jagat media sosial. Ruang-ruang diskusi yang dulu hangat dengan dialektika, kini digantikan oleh riuh rendah pertikaian tanpa substansi yang hanya mengejar viralitas sesaat.
Esensi propaganda kini telah dibajak secara brutal oleh syahwat popularitas. Ia tak lagi menyuarakan kebenaran yang pahit atau memicu kesadaran kelas yang mendalam. Sebaliknya, propaganda telah direduksi menjadi sekadar instrumen dangkal untuk memburu viewers dan pengikut, demi sebuah konversi “cuan” yang memabukkan.
Kehancuran Nilai oleh Sistem Senyap
Kebanggaan tim Agiprop yang dulu kita rawat dengan idealisme, kini luluh lantak oleh sebuah sistem senyap yang bekerja secara sistematis. Sistem ini berhasil mengubah media sosial yang seharusnya menjadi ruang publik demokratis, menjadi alat publikasi “proxy” yang dikendalikan oleh kepentingan tersembunyi. Kita terjebak dalam perang persepsi yang tidak lagi memiliki landasan ideologi yang jelas.
Nilai-nilai perjuangan yang dulu dianggap suci kini ditukar dengan recehan digital yang tidak sebanding dengan keringat para martir pendahulu. Ironisnya, di era ini, keberhasilan seorang propagandis hanya diukur dari angka statistik di layar dashbor—jumlah klik, share, dan penayangan—bukan lagi dari seberapa jauh perubahan kesadaran massa atau seberapa kuat pengorganisiran rakyat terbentuk di lapangan.
Melawan Tirani Algoritma
Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena pelacuran intelektual yang paling vulgar dalam sejarah gerakan. Ketika dialektika yang mendalam diringkas menjadi judul-judul clickbait yang menyesatkan, dan ketika penderitaan rakyat dieksploitasi hanya demi mendongkrak engagement, di situlah sebenarnya propaganda telah mati sebagai alat pembebasan. Kita telah mengkhianati substansi demi kemasan yang mengkilap namun kosong.
Sadar atau tidak, kita tidak lagi sedang menyusun barisan massa yang sadar akan hak-haknya. Sebaliknya, kita sedang bersimpuh mengemis pada algoritma—sebuah entitas tak kasat mata yang dirancang oleh tangan-tangan kapitalis, oligarki, dan kartel global yang selama ini kita kutuk dalam orasi-orasi kita. Kita tunduk pada aturan main mereka, mengikuti tren yang mereka ciptakan, dan secara sukarela masuk ke dalam jebakan logika pasar.
Propaganda yang kehilangan moralitasnya bukan lagi merupakan “api” yang sanggup membakar semangat perlawanan, melainkan hanya “asap” hitam yang menyesakkan dada. Ia kosong, tanpa substansi, dan hanya berfungsi menghitamkan layar ponsel tanpa pernah sanggup menyulut tindakan nyata di jalanan. Jika hari ini Agiprop hanya bertekuk lutut pada berhala bernama viewers, maka sejatinya kita bukan lagi seorang pejuang; kita hanyalah budak digital yang merasa sedang memberontak, padahal kita sedang mendekam di dalam sangkar emas yang kita bangun dengan tangan kita sendiri.
Hancurkan mesin yang membelenggu itu, atau ia akan terus menggiling idealisme kita hingga hancur menjadi ampas komoditas yang tidak berharga. Kita harus kembali pada khitah perjuangan: bahwa propaganda adalah senjata untuk memenangkan keadilan, bukan barang dagangan untuk mencari kemapanan!










































