Revitalisasi Fasilitas, Siswa SMKN 5 Kabupaten Tangerang Kini Lebih Pede Tantang Dunia Kerja

TANGERANGDALAMBERITA.ID | JAKARTA Program revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kualitas pendidikan vokasi. Selain meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui perbaikan fasilitas, program ini juga mempererat sinergi antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

 

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Hadir sebagai narasumber Kepala SMKN 5 Kabupaten Tangerang Surta Wijaya, Direktur Jenderal Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin, serta Kepala Perpusnas Prof. Aminudin Aziz.

 

Transformasi Sekolah

Kepala SMKN 5 Kabupaten Tangerang, Surta Wijaya, S.Kom., M.M., M.T.I., mengenang masa awal kepemimpinannya pada Desember 2019. Kala itu, kondisi infrastruktur sekolah jauh dari kata ideal.

“Sekolah kami saat itu rusak berat. Banyak gedung tidak layak dan fasilitas praktik sangat terbatas,” ungkap Surta.

 

Enggan menyerah pada keadaan, Surta bersama jajaran guru melakukan pemetaan prioritas dan aktif menjemput bola untuk mendapatkan dukungan. Langkah strategis tersebut membuahkan hasil dengan ditetapkannya SMKN 5 sebagai sekolah Pusat Keunggulan (PK).

“Kami berhasil merenovasi 42 ruang kelas. Ini menjadi titik balik dalam menciptakan ekosistem belajar yang kondusif,” tambahnya.

 

Sinergi Industri dan Mentalitas Siswa

Modernisasi fasilitas ternyata menjadi daya tarik bagi mitra industri. Surta menjelaskan bahwa dukungan dari sektor swasta kini semakin masif, mulai dari penyediaan alat praktik untuk jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) hingga program magang dan penyaluran lulusan.

 

Dampak paling nyata, menurut Surta, terlihat pada perubahan perilaku siswa. “Anak-anak sekarang jauh lebih percaya diri dan nyaman. Semangat mereka untuk datang ke sekolah meningkat drastis karena fasilitasnya sudah representatif dengan standar industri,” tuturnya.

 

Penguatan Kualitas Vokasi

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Vokasi dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa revitalisasi fisik hanyalah satu bagian dari transformasi besar. Ia menekankan pentingnya keselarasan (link and match) antara kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja.

“Penguatan fasilitas harus berjalan beriringan dengan kompetensi siswa dan kemitraan industri. Pendidikan vokasi harus adaptif terhadap perubahan dunia kerja yang sangat dinamis,” tegas lulusan S3 Sosiologi University of Groningen tersebut.

 

Senada dengan Tatang, Kepala Perpusnas Prof. Aminudin Aziz menambahkan bahwa keterampilan teknis harus diimbangi dengan kemampuan literasi. Menurutnya, literasi adalah fondasi bagi siswa SMK untuk memiliki kemampuan berpikir kritis di era informasi.

 

 

(AJ/Sym)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed