TANGERANGDALAMBERITA.ID | KABUPATEN SERANG — Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menjalin kerja sama dengan World Bank (Bank Dunia) dalam pelaksanaan program Swasembada Ekonomi Hijau dan Pangan Terintegrasi (SEHATI) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat desa.
Program tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, hingga masyarakat desa. Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah menargetkan terwujudnya swasembada pangan berbasis potensi lokal yang diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Dalam implementasinya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan menjadi penggerak utama program. Setiap desa berpeluang memperoleh dukungan pendanaan hingga maksimal Rp2,5 miliar dari Bank Dunia untuk mengembangkan sektor pangan lokal, sesuai proposal yang diajukan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Peluncuran atau kick off Program SEHATI direncanakan dimulai di Provinsi Banten dengan melibatkan desa-desa dari seluruh wilayah provinsi tersebut. Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, beberapa hari lalu, dihadiri sekitar 600 kepala desa.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kerja sama antara Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, dengan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, sebagai bentuk sinergi dalam penguatan riset, inovasi, dan pengembangan masyarakat desa.
Dalam sambutannya, Yandri Susanto mengatakan bahwa pelaksanaan Program SEHATI melibatkan berbagai pihak guna memperkuat pembangunan desa secara berkelanjutan.
“Kami juga menggandeng pemerintah daerah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, asosiasi, pelaku usaha, hingga Bank Dunia. Selain itu, kami bekerja sama dengan perguruan tinggi dan BRIN untuk menciptakan inovasi serta pengembangan teknologi guna memaksimalkan potensi pangan lokal,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Yandri, Program SEHATI bertujuan mengangkat berbagai potensi pangan lokal yang dimiliki setiap desa sekaligus memberdayakan masyarakat agar mampu meningkatkan nilai ekonomi dari hasil produksi mereka.
Dengan demikian, diharapkan perekonomian masyarakat desa dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Saat ini kita telah mencapai swasembada beras dan jagung. Selanjutnya kita akan menuju swasembada protein, seperti ikan dan komoditas lainnya,” katanya.
Ia menjelaskan, setiap desa diminta melakukan pemetaan terhadap potensi pangan lokal yang dimiliki, kemudian menyusun proposal pengembangan secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan untuk diajukan kepada Bank Dunia melalui BUMDes.
“Besaran bantuan akan disesuaikan dengan proposal yang diajukan. Pagu maksimalnya Rp2,5 miliar, sehingga setiap desa dapat memperoleh pendanaan sesuai kebutuhan dan kelayakan usulan. Pendanaan ini berada di luar Dana Desa,” jelasnya.
Melalui Program SEHATI, produk-produk unggulan desa juga akan didorong agar memiliki kualitas, daya saing, serta kemasan (packaging) yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha desa.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, program tersebut diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru serta memperluas akses pasar hingga ke tingkat ekspor apabila kebutuhan pasar domestik telah terpenuhi.
“Pendapatan masyarakat dapat meningkat, lapangan pekerjaan bertambah, dan apabila kebutuhan lokal telah terpenuhi, produk-produk desa akan kami dorong untuk menembus pasar ekspor,” tegasnya.
Program SEHATI juga diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin keenam, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.
Sementara itu, Senior Development Specialist World Bank, Jessica Ludwig Maaroof, menyambut baik kerja sama yang terjalin antara World Bank dan Kemendes PDT.
Menurutnya, kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi desa di tengah tantangan perubahan iklim.
“Kami berupaya mengoptimalkan pengembangan berbagai potensi yang dimiliki desa agar mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim,” pungkasnya.
(Yanto)









































