TANGERANGDALAMBERITA.ID | JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, mengundurkan diri dari jabatannya untuk menjalani pengobatan penyakit jantung. Keputusan tersebut disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto saat berpamitan.
Meski menerima pengunduran diri tersebut, Presiden Prabowo meminta Nanik S Deyang tetap memberikan perhatian serta pengawasan terhadap Badan Gizi Nasional, khususnya dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan informasi yang dikutip dari akun Instagram @dirgayuza, pengunduran diri tersebut disampaikan setelah Nanik S Deyang menyelesaikan masa kepemimpinannya di BGN selama kurang lebih satu setengah bulan.
Dalam masa kepemimpinan yang relatif singkat itu, Nanik S Deyang disebut telah memulai berbagai langkah pembenahan tata kelola Program MBG melalui evaluasi menyeluruh dan reformasi kelembagaan.
“Hari ini Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung sekaligus mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional,” tulis akun @dirgayuza.
Selama memimpin BGN, Nanik S Deyang dikabarkan melakukan evaluasi terhadap hampir 28.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengklasifikasikan sekitar 3.000 dapur berdasarkan standar mutu, serta menghentikan perluasan dapur MBG di wilayah yang dinilai telah mencapai tingkat kejenuhan.
Selain itu, BGN juga menemukan 414 SPPG yang bermasalah. Hasil evaluasi tersebut disebut berkontribusi terhadap penyelamatan anggaran negara hingga mencapai ratusan miliar rupiah.
Di sisi lain, Nanik S Deyang membentuk 11 tim reformasi untuk memperkuat tata kelola program sekaligus memfokuskan penyaluran MBG kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Upaya pembenahan tersebut juga diperkuat melalui pelibatan tenaga profesional dari berbagai kementerian dan lembaga guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan program.
Dalam berbagai kesempatan, Nanik S Deyang menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, melainkan merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Program tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, pedagang, koperasi, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok pangan.
Sebelum menjabat sebagai Kepala BGN, Nanik S Deyang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan advokasi kemanusiaan. Namanya antara lain dikenal melalui pendampingan terhadap kasus Wilfrida Soik, serta berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat, termasuk pengembangan becak listrik bagi pengayuh becak lanjut usia.
Pengunduran diri Nanik S Deyang dari jabatan Kepala BGN diharapkan tidak menghentikan agenda reformasi yang telah dirintis. Setelah menjalani proses pengobatan dan pemulihan kesehatan, ia diharapkan dapat kembali memberikan kontribusi bagi penguatan program gizi nasional demi meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
(Yanto)










































