TANGERANGDALAMBERITA.ID | NUSA TENGGARA TIMUR — Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS (10), ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri. Peristiwa tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian YBS (10) sempat meminta dibelikan buku dan alat tulis kepada ibunya. Namun permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, mengatakan bahwa YBS dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, dan rajin belajar meski hidup dalam kondisi serba kekurangan.
“Menurut keterangan para tetangga, korban jarang menunjukkan kesedihan dan dikenal patuh serta tekun bersekolah,” ujar Bernardus.
Ia menjelaskan, sehari sebelum ditemukan meninggal dunia, YBS sempat menginap di rumah ibunya dan kembali meminta uang untuk membeli buku serta pena. Namun sang ibu tidak memiliki uang saat itu. Ayah korban diketahui telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan.
Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun, sementara ibunya tinggal di kampung sebelah bersama lima anak lainnya.
“Korban memang jarang bertemu ibunya karena kondisi keluarga. Ia merupakan anak dari pernikahan ketiga,” jelas Bernardus.
Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Kamis siang (29/1/2026), oleh warga setempat yang saat itu sedang beraktivitas di sekitar rumah nenek korban. Warga sempat melihat korban pada pagi harinya duduk di depan rumah, padahal seharusnya sudah berangkat ke sekolah.
Ibu korban, MGT (47), menuturkan bahwa pada malam sebelumnya YBS menginap di rumahnya. Pada Kamis pagi sekitar pukul 06.00 WITA, korban diantar menuju rumah neneknya menggunakan jasa ojek.
“Saya sempat menasihati agar dia rajin sekolah dan memahami kondisi ekonomi keluarga yang masih sulit,” ujar MGT dengan suara lirih.
Pihak Polres Ngada mengonfirmasi bahwa di lokasi kejadian ditemukan secarik kertas berisi tulisan tangan korban menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut diduga merupakan pesan perpisahan yang ditujukan kepada ibu dan keluarganya.

Isi surat tersebut antara lain berpesan agar sang ibu tidak bersedih dan merelakan kepergiannya.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius berbagai pihak dan menyoroti persoalan kemiskinan serta perlindungan psikososial terhadap anak, khususnya di daerah dengan keterbatasan ekonomi.
(Yanto)








































