TANGERANGDALAMBERITA.ID | TANGERANG — Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Kresek sejak Sabtu malam hingga Minggu dini hari (8/3/2026), menyebabkan luapan banjir cukup parah di sejumlah jalan poros Desa Pasir Ampo dan Desa Koper.
Pantauan Awak media, Air mulai menggenangi permukiman warga sekitar pukul 02.00 WIB. Beberapa rumah di Kampung Bojong Desa Pasir Ampo bahkan terendam hingga ketinggian sekitar betis kaki orang dewasa pada Senin pagi (09/03/2026)
Menurut keterangan Jaro Karja, banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang membuat debit air sungai Cidurian meluap dari berbagai arah akibat banyaknya tanggul yang jebol hingga menuju kawasan pemukiman penduduk.
“Sekitar jam Dua dini hari air mulai naik ke jalan dan rumah – rumah warga, bahkan ada yang sudah setinggi pinggang. Warga masyarakat yang sedang melaksanakan sahur pun harus disibukkan dengan datangnya air secara tiba – tiba tersebut. Ada yang airnya masuk ke dalam rumah hingga sekitar 60 cm,” ujarnya.
Menurutnya, air yang masuk ke kawasan pemukim penduduk di Kampung Bojong RT. 001/001 berasal dari beberapa titik bendungan atau tanggul TPT Sungai Cidurian yang kini banyak jebol.

Selain itu, lambatnya air tersebut surut juga disebabkan oleh sejumlah saluran pembuangan yang tidak mampu menampung debit air yang besar ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi hingga merendam sejumlah area pesawahan warga.
Meski demikian, Jaro Karja mengapresiasi sejumlah pihak yang sigap datang ke lokasi saat banjir terjadi, termasuk petugas pemadam kebakaran, pihak PLN, serta Kepala Desa Pasir Ampo Suardi yang turun langsung memantau kondisi warganya.
“Saya juga menyampaikan terima kasih kepada warga dan para pengurus lingkungan yang berjaga sepanjang malam serta tim tanggap darurat Desa Pasir Ampo yang ikut membantu membersihkan pohon – pohon atau kayu tumbang serta sampah yang terbawa arus.
Sementara itu, Kepala Desa Pasir Ampo menilai solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir di wilayahnya adalah dengan segera dibangunnya Tembok Penahanan Tanah (TPT) di sepanjang bantaran Sungai Cidurian, serta program Sendimentasi atau Normalisasi Sungai secepatnya.
“Saya pikir tidak ada solusi lain, pembangunan TPT dan Normalisasi Sungai Cidurian, agar aliran air lebih lancar, sehingga banjir tak terjadi banjir yang terus menjadi langganan setiap tahunnya,” ungkap Suardi.
Ia juga menyoroti bahwa selama lebih dari 10 tahun BBWSC3 belum pernah ada perhatian khusus terkait pembangunan tanggul maupun Normalisasi Sungai Cidurian yang melintasi 5 Desa di Kecamatan Kresek.
Suardi mengatakan, “Terus mau sampai kapan pembangunan tersebut dilakukan oleh pemerintah daerah atau memang kami masyarakat kecil cukup diberikan bantuan beras dan indomie saja,” ucapnya kesal
Menurutnya apalagi hari raya Idul Fitri sudah semakin dekat, dan jalan tersebut merupakan akses penghubung antara Desa di Kecamatan Jayanti juga ke wilayah Kabupaten Serang.
“Setidaknya pemerintah bisa berkolaborasi antara pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Kementerian Balai Besar, memberikan perhatian nyata melalui pembangunan TPT dan Normalisasi, sehingga bisa dianggarkan tanpa harus terhambat persoalan PSU dan banjir tidak terus terulang,” pungkasnya.
(Yanto)




































