TANGERANGDALAMBERITA.ID | KABUPATEN TANGERANG — Aksi gotong royong masyarakat dalam menggalang dana untuk membantu Nenek Masru’ah (83), warga Kampung Andil RT 004/RW 001, Desa Talok, Kecamatan Kresek, memantik perhatian publik. Setelah aksi sosial tersebut menjadi sorotan, berbagai pihak mulai memberikan perhatian dan bantuan kepada warga lanjut usia yang tinggal di rumah tidak layak huni itu, Rabu (29/7/2026).
Rumah Nenek Masru’ah menjadi perhatian setelah masyarakat, insan pers, dan relawan berinisiatif menggalang dana secara swadaya guna membantu proses perbaikan tempat tinggalnya. Aksi kemanusiaan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan karena dinilai mencerminkan kuatnya semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Tokoh masyarakat yang dikenal dengan sapaan Bocah Angon menyampaikan bahwa setiap bentuk bantuan yang diberikan kepada warga patut diapresiasi. Namun, menurutnya, apresiasi terhadap bantuan tidak boleh menghilangkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik yang bersifat membangun.
“Nah, begitu dong. Rakyat sudah patungan, baru ramai yang turun. Kalau sindiran membuat ada yang merasa kebakaran jenggot, berarti persoalannya bukan pada kritiknya, tetapi pada suara hati masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bocah Angon, aksi kemanusiaan bukanlah ajang untuk mencari siapa yang paling berjasa, melainkan memastikan warga yang membutuhkan segera memperoleh pertolongan.
Ia menilai masih ada pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat, yakni mengapa kondisi rumah yang telah lama tidak layak huni baru mendapat perhatian luas setelah diberitakan media dan masyarakat lebih dahulu bergerak memberikan bantuan.
Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan bentuk kebencian terhadap pemerintah, melainkan menjadi evaluasi agar pelayanan publik semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kalau datanya memang sudah ada, Alhamdulillah. Berarti tinggal bergerak, bukan mencari alasan. Yang ditunggu masyarakat adalah tindakan nyata, bukan sekadar penjelasan,” katanya.
Tidak lama setelah aksi sosial tersebut menjadi perhatian publik, Camat Kresek mengunjungi kediaman Nenek Masru’ah dan menyerahkan bantuan berupa sembako. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk kepedulian pemerintah yang patut diapresiasi.
Meski demikian, Bocah Angon menegaskan bahwa kritik yang disampaikan masyarakat tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan pihak tertentu.
“Kami mengapresiasi langkah tersebut. Memang sudah seharusnya pemimpin hadir di tengah masyarakat. Namun jangan salah memahami kritik. Kritik adalah alarm. Kalau alarm berbunyi lalu semua bangun, berarti alarm itu bekerja sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, ia juga mengingatkan agar semangat gotong royong tidak dijadikan alasan untuk mengurangi tanggung jawab pelayanan publik.
“Kadang yang membawa semen lebih dahulu bukan yang memiliki anggaran, melainkan mereka yang memiliki kepedulian. Beruntung masyarakat Indonesia masih memiliki semangat gotong royong. Namun jangan sampai pemerintah ikut mengandalkan patungan rakyat. Negara seharusnya hadir ketika warganya membutuhkan, bukan hanya saat persoalan menjadi perhatian publik,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti fenomena yang menurutnya kerap terjadi ketika muncul kritik terhadap pelayanan publik.
“Baru membaca judul sudah membantah, baru melihat foto langsung memberikan klarifikasi. Padahal masyarakat bukan sedang mencari musuh. Mereka hanya menginginkan pelayanan yang lebih cepat daripada penjelasan,” ucapnya.
Menurut Bocah Angon, kritik sosial merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat dan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara pemerintahan agar pelayanan kepada masyarakat terus meningkat.
“Kalau setelah dikritik pelayanannya menjadi lebih baik, berarti kritik itu membawa manfaat. Yang perlu dihindari bukan kritiknya, melainkan ketika masyarakat bergerak lebih dahulu sementara pemerintah baru menyusul,” tegasnya.
Ia berharap peristiwa yang dialami Nenek Masru’ah menjadi pembelajaran bersama, bukan hanya untuk memperbaiki satu rumah, tetapi juga memperkuat sistem pendataan dan pelayanan terhadap warga rentan sehingga dapat ditangani lebih cepat tanpa harus menunggu menjadi perhatian publik.
Menurutnya, masyarakat pada akhirnya akan lebih mengingat pihak yang hadir memberikan solusi dibandingkan pihak yang lebih dahulu memberikan bantahan.
“Kalau hari ini ada yang merasa tersentil oleh kritik, jangan sibuk mencari pembelaan. Lebih baik mencari solusi. Sebab kritik akan berhenti dengan sendirinya ketika pelayanan publik benar-benar berjalan dengan baik,” pungkasnya.
(Yanto)




































