KOTA SERANG – Sebuah gapura besar bertuliskan aksara Cina berdiri mencolok di depan kawasan mega proyek yang disebut – sebut terafiliasi dengan Agung Sedayu Group di Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.(19/08/2025)
Pantauan Awak media di lapangan papan besar bertuliskan Alfabet Cina nampak jelas berdiri mencolok di depan kawasan mega proyek Sawah Luhur, serta terlihat aktivitas truk – truk besar pengangkut tanah urukan hilir mudik meratakan lahan seluas 152 Hektare. Kawasan itu digadang – gadang akan dikembangkan menjadi kawasan industri dan perumahan elite dengan Ornamen bercorak etnis Tionghoa.
Sementara itu dari keterangan Ahmad, salah warga Sawah Luhur yang ditemui Awak media dan sedikit memahami bahasa Tionghoa (red.Hokyan) mengatakan,”Tulisan itu Artinya memang ‘Kota industri di Dinasti Xia, Shang, dan Zhou’, dalam bahasa Cina,” kata Ahmad, warga Sawah Luhur
Menurutnya, papan itu baru dipasang Tiga hari lalu, entah apa maksud dan tujuannya pihak pengelola proyek justru memasang plang bertuliskan “Kawasan Industri Dinasty” dalam aksara Cina. Padahal menjelang HUT RI ke-80,” terangnya
Ahmad sendiri menyebutkan jika lahan tersebut nantinya akan menampung Lima pabrik, yaitu pabrik sepatu, pabrik boneka, pabrik sepeda listrik, pabrik spandek dan pabrik kosmetik,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, sebagian warga sudah menerima kompensasi setelah sempat terjadi aksi protes beberapa waktu lalu..
“Sekarang sudah aman bang, Masyarakat disini sudah mendukung, jadi LSM juga tidak berani demo lagi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ahmad juga mengatakan setiap Ritasi kendaraan Truk tanah urukan dikenakan biaya sebesar Rp.30 ribu. Dari jumlah tersebut, Rp.5 ribu disalurkan untuk masjid dan Rp.5 ribu untuk yatim serta janda jompo. “Banyak yang dapat, seminggu sekali dibagi,” katanya.
Adapun untuk Truk proyek diketahui mulai beroperasi sejak subuh melalui jalur Kramat dan jalan baru Kasemen.
Berbeda dengan pernyataan Herman yang juga merupakan warga Sawah Luhur, “Bohong itu tidak semua warga merasakan manfaat adanya aktivitas tersebut.
Herman, juga menilai proyek tersebut cuma hanya membawa dampak negatif saja bagi keselamatan dan kenyamanan aktivitas masyarakat saat ini.
“Itu proyek urukannya sudah Lima bulan ini berjalan dan sangat mengganggu. Mobil proyek suka konvoi jalannya bikin macet, belum soal debu, dan ceceran tanahnya, bikin bahaya keselamatan warga,” katanya.
Bahkan Herman juga mengaku pernah menegur salah satu sopir truk yang melintas dengan kecepatan tinggi di area pemukiman, namun tak digubris.
“Kalau nabrak kucing sih iya aja, tapi kalau (nabrak) orang bagaimana urusannya ? RT juga sudah saya bilang, tapi kalau kena duit ya susah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kekecewaannya karena keluarganya tidak pernah menerima kompensasi, meski termasuk warga yang terdampak.
“Itu mah Ormas kang, yang dapat, dimakan sendiri. Orang tua saya janda enggak pernah dapat, anak yatim juga enggak. Mana ada yang ngasih ?” ucapnya.kesal
Menurutnya , Selain debu dan kebisingan, getaran dari lalu lintas truk membuat rumah dan kios warga di sekitar proyek mengalami kerusakan.
“Warung, rumah, dinding serra kaca pada retak semua. Seribu perak pun saya gak pernah dapat,” tandasnya.
Terkait hal ini belum ada tanggapan dari pihak terkait. Awak media masih terus mencoba mengkonfirmasi kebenarannya lebih lanjut
(Yanto)